Monday, July 21, 2025

 

Materi Ajar “ASESMEN DALAM PEKERJAAN SOSIAL”

Assessment adalah proses evaluasi atau penilaian terhadap suatu kinerja, kompetensi, atau hasil belajar seseorang atau sekelompok orang. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh mana seseorang atau sekelompok orang memenuhi standar kompetensi atau mencapai tujuan belajar yang ditentukan. Assessment dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti tes, observasi, atau wawancara. 

Dalam pekerjaan sosial Assessment merupakan proses evaluasi atau penilaian terhadap kondisi, kebutuhan, dan kinerja individu, keluarga, kelompok atau masyarakat yang memerlukan bantuan sosial.  Guna mengidentifikasi masalah yang dihadapi klien, menentukan intervensi yang tepat, dan mengevaluasi efektivitas intervensi yang dilakukan. Assessment dalam pekerjaan sosial dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti wawancara, observasi, atau tes psikologi, dan dapat dilakukan oleh berbagai profesional lainnya juga seperti seperti sosiolog, psikolog, atau pekerja sosial.

Asesmen secara sederhana dirtikan sebagai pengungkapan dan pemahaman masalah. Menurut Ivry dalam Compton 1999 pengertian asesmen adalah :”the collection and processing of data to provide information for use in making decision about the nature of the problem and what is to be done about it” pengumpulan dan proses data untuk menyediakan informasi yang digunakan dalam hal pengambilan keputusan yang berkaitan dengan keadaan masalah dan apa yang dilakukan terhadapnya.

Asesmen ini merupakan penilaian tentang klien dan lingkungan mereka dalam rangka memutuskan kebutuhan mereka. Menurut Meyer 1993:27-42 dalam Albert R. Roberts dan Gilbert J. Greene penyunting yang diterjemahkan oleh Juda Damanik dan Cynthia Pattiasina 2008:98  Proses asesmen terdiri dari lima langkah yakni:

1.     Exploration menggali informasi;

2.     inferential thinking review data;

3.     Evaluation evaluasi;

4.     Problem definition perumusan masalah; dan

5.     Intervention planning perencanaan intervensi.

Mengacu pada pendapat Albert R. Roberts dan Gilbert J. Greene ibid: 103 secara sederhana kebutuhan asesmen meliputi:

1.     Data- data demografi;

2.     kontak dengan lembaga;

3.     Sejarah singkat klien;

4.     Ringkasan situasi klien saat ini;

5.     Permintaan yang disampaikan;

6.     Masalah yang disampaikan presenting problem sebagaimana dilihat oleh klien dan pekerja sosial;

7.     Kontrak yang disepakati klien dan pekerja sosial;

8.     Rencana intervensi; dan

9.     Sasaran intervensi.

Mengutip pendapat Dwi Heru Sukoco 1998:157 asesmen yang dilaksanakan terhadap klien mempunyai 2 dua tujuan, yakni

1.     membantu mendefinisikan masalah klien; dan

2.     menunjukkan sumber-sumber yang berhubungan dengan kesemuanya itu.

Dalam Panduan Kerja Sakti Peksos 2009, dijelaskan bahwa tujuan asesmen yaitu:

1.     Mengidentifikasi dan mengindividualisasi kebutuhan-kebutuhan klien. Artinya bahwa setiap klien sebagai individu memiliki kebutuhan dan permasalahan yang unik dan berbeda dengan orang lain, yang kemudian menuntut untuk diperlakukan secara individu juga. Demikian juga dengan bentuk pertolongan yang diperlukannya

2.     Merupakan suatu cara untuk menjamin bahwa aktivitas pertolongan dilakukan secara selektif, khususnya dalam intervensi yang berbeda akan menemukan kebutuhan yang spesifik

3.      Menciptakan sesuatu yang rasional, dasar keyakinan untuk intervensi, terutama dalam plan of intervention

4.     Menciptakan suatu pengertian yang disepakati tentang realita, kesulitan atau kebutuhan klien, serta situasi dan tindakan yang dilakukan

5.     Memberikan pengertian pola dan penjelasan terhadap kesulitan klien

6.     Memberikan suatu evaluasi jenis tujuanpengertian tentang penilaian normatif yang berkenanaan dengan perilaku yang diinginkan

7.     Menyatakan prediksi-prediksi tertentu assert certain predictions

8.     Memungkinkan pekeja sosial untuk menentukan dan menciptakan program tindakan administratif dengan menemukan kasus atau kebutuhan klien.

Adapun tujuan assesment dalam pekerjaan sosial adalah sebagai berikut :

a.     Mengidentifikasi masalah sosial yang dihadapi oleh individu, keluarga, kelompok atau masyarakat yang memerlukan bantuan sosial.

b.     Menentukan intervensi yang tepat untuk membantu individu, keluarga, atau masyarakat tersebut.

c.     Mengukur tingkat kesejahteraan, kompetensi, dan kondisi individu, keluarga, atau masyarakat yang memerlukan bantuan sosial.

d.     Mengevaluasi efektivitas intervensi yang dilakukan dan mengambil tindakan perbaikan jika diperlukan.

e.     Membuat laporan yang menyajikan hasil assessment yang dilakukan, yang dapat digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan atau tindak lanjut.

 

Asesmen dalam pekerjaan sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari studi sosial, khususnya menyangkut:

1.     Pendefinisian masalah klien definition of the clien’s problem

2.     Mengidentifikasi Indentify

3.     Melihat secara akurat situasi kehidupan klien

4.     Menentukan secara jelas klien sebagaimana individu lainnya

Secara lebih spesifik pemahaman kondisi klien bisa dilihat dalam asesmen biologis, psikologis, sosial dan spiritual meliputi:

1.     Asesmen biologis yang meliputi: usia, suku bangsa, agama, jenis kelamin, pendidikan, kondisi keluarga menurut klien;

2.     Asesmen psikologis aspek kognitif-afektif meliputi: pemikiran, perasaan, keinginan, kebutuhan dan aspirasi, harapan dan motivasi

3.     Asesmen sosial yang menyangkut relasi klien dengan orang tua dan atau keluarganya

4.      Asesmen spiritual yang meliputi keyakinan dan harapan klien.

Asesmen dilakukan melalui proses tertentu yakni:

1.     Ekplorasi, investigasi dan pengumpulan data

2.     Menyusunmenata data dan berfikir tentang informasi-informasi untuk mengembangkan peernyataan tentang masalah untuk bekerja dan tujuan

3.     Memformulasikan rencana aksi

Metode 

Metode assessment dalam pekerjaan sosial adalah cara atau teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi tentang individu, keluarga, atau masyarakat yang memerlukan bantuan sosial. Beberapa metode assessment yang umum digunakan dalam pekerjaan sosial diantaranya: 

a.     Wawancara: mengumpulkan informasi melalui percakapan atau diskusi dengan individu, keluarga, kelompok atau masyarakat yang memerlukan bantuan sosial.

b.     Observasi: mengumpulkan informasi melalui pengamatan terhadap tingkah laku, kondisi fisik, dan lingkungan individu, keluarga, atau masyarakat yang memerlukan bantuan sosial.

c.     Tes psikologi: mengumpulkan informasi tentang kondisi psikologis individu yang memerlukan bantuan sosial.

d.     Survei: mengumpulkan informasi tentang kondisi sosial ekonomi, persepsi, dan opini masyarakat.

e.     Analisis dokumen: mengumpulkan informasi dari dokumen yang terkait dengan individu, keluarga, atau masyarakat yang memerlukan bantuan sosial.

Metode assessment yang digunakan harus sesuai dengan tujuan assessment dan jenis masalah yang dihadapi. Itu adalah beberapa metode assessment yang digunakan dalam pekerjaan sosial, tetapi masih ada metode lain yang dapat digunakan seperti assessment dengan focus group, assessment dengan skala assessment kesehatan, dll.

Prinsip dan etika dalam Assesment 

Prinsip dalam assessment dalam pekerjaan sosial adalah panduan yang digunakan untuk memastikan bahwa assessment dilakukan dengan cara yang benar, obyektif dan sesuai dengan tujuan dari pekerjaan sosial. Beberapa prinsip dalam assessment dalam pekerjaan sosial diantaranya:

a.     Validitas: assessment harus mengukur apa yang seharusnya diukur, yaitu kondisi, kebutuhan, dan kinerja individu, keluarga, atau masyarakat yang memerlukan bantuan sosial.

b.     Reliabilitas: assessment harus dapat diulang dan memberikan hasil yang konsisten.

c.     Objektif: assessment harus dilakukan tanpa bias atau preferensi tertentu.

d.     Relevansi: assessment harus berkaitan dengan tujuan dari pekerjaan sosial dan masalah yang dihadapi individu, keluarga, atau masyarakat yang memerlukan bantuan sosial.

Sedangkan etika dalam assessment dalam pekerjaan sosial adalah standar perilaku yang harus diikuti oleh pekerja sosial dalam melakukan assessment. Beberapa etika dalam assessment dalam pekerjaan sosial diantaranya:

a.     Kerahasiaan: pekerja sosial harus menjaga kerahasiaan data yang dikumpulkan dari klien.

b.     Konsentrasi: pekerja sosial harus mendapatkan persetujuan dari klien sebelum melakukan assessment.

c.     Non-diskriminasi: pekerja sosial harus melakukan assessment tanpa diskriminasi berdasarkan ras, agama, gender, orientasi seksual, atau status sosial ekonomi.

d.     Kepemimpinan: pekerja sosial harus memimpin assessment dengan cara yang profesional dan bertanggung jawab.

e.     Kualitas: pekerja sosial harus menjamin kualitas assessment yang dilakukan dengan memenuhi standar profesional yang berlaku.

Sumber :

https://text-id.123dok.com/document/wq27279jy-asesmen-pekerjaan-sosial-3295-kali.html

https://www.kompasiana.com/adlinminosra/63d1a47e612a256553252282/assesment-pekerjaan-sosial-pengertian-tujuan-metode-prinsip-dan-etika?lgn_method=google&google_btn=onetap

https://www.youtube.com/watch?v=XBOHWYXOt2E

No comments:

Post a Comment